Bisa jika Berpikir Bisa

Ada sebuah kisah tentang seekor gajah berbelalai panjang bertelinga lebar. Sedari kecil gajah diikat dan ditalikan dengan tambang sedemikian hingga gerak si gajah hanya dalam radius empat meter. Gajah waktu kecil itu tak jarang coba lebihi empat meter. Tapi sayangnya tambang selalu mencegahnya.
Waktu berjalan berputar berganti maka tumbuh dewasa sang gajah. Waktu gajah dewasa, tambang besar yang selama ini menahan gerak gajah tiba tiba diganti dengan tali rafia tipis kecil. Gajah besar punya kesempatan besar. Gajah besar bisa mudah merusak tali tipis kecil jadi bisa pergi lebihi empat meter.
Suatu saat gajah berpikir untuk lebihi empat meter. Namun ternyata, gajah tak bisa. Tubuh besar berbelalai panjang bertelinga lebar itu tak sanggup melakukanya. Gajah besar seakan tak punya nyali untuk lebihi empat meter. Tak kuasa merusak tali kecil tipis. Beginilah akhirnya gajah besar yang tak keluar dari empat meter.Sungguh sayang, sejak kecil tak bisa keluar ternyata waktu besar jadi tak mampu keluar…


Teman-teman, kisah di atas menggambarkan suatu keadaan trauma yang dialami seekor gajah. Karena sejak kecil si gajah diikat maka waktu besar dan tali diganti, si gajah hanya tetap bisa di tempat itu.

Keadaan trauma seperti ini sebenarnya juga terjadi pada manusia. Misalnya saja ada seseorang yang sejak kecil tak berani mengendarai sepeda dan tak mau mencobanya. Saat remaja mungkin ia tak berani dan tak mau mencoba sepeda motor. Saat dewasa pun, untuk dapat mengendarai mobil adalah hal yang sangat sulit baginya. Orang itu tak kan bisa berkembang hanya karena otaknya mengatakan tak bisa.

Trauma yang terjadi seperti ini sebenarnya merupakan hasil dari kebiasaan berpikir kita. Sebagai contoh lagi, kadang kita temui ada orang yang tidak suka makanan pedas. Disini pedas kita anggap sebagai cita rasa yang menantang bagi lidah. Seseorang tidak suka makanan pedas salah satunya karena sejak kecil orang itu tak berani mencoba makanan pedas. Waktu kecil, pedas itu terasa sangat menyiksa sehingga untuk mencobanya lagi timbul rasa enggan. Ketika hal ini dibiarkan berlanjut dan orang itu tak berani untuk mencoba, pikiran buruk tentang pedas akan membuat orang itu seterusny tidak suka makanan pedas.

Contoh lebih praktisnya dapat kita lihat juga pada kehidupan sekolah. Terkadang, di sekolah kita temui siswa yang pandai dan berprestasi di kelas tapi ia tak mau ikut dalam kompetisi akademis di luar sekolah hanya karena merasa tidak bisa. Ia takut kalau jadwal belajarnya terganggu kegiatanya berkompetisi.

Teman teman, apa yang telah diuraikan di atas memiliki makna bahwa kita tidak bisa karena kita sendiri telah berpikir tidak bisa. Pikiran tidak bisa ini bagaikan tali yang mengikat gajah sejak kecil. Dan apabila pikiran seperti ini dibiasakan, maka sama saja seperti tali rafia yang mengikat gajah besar tapi tak bisa diputuskan.
Kita harus yakin bahwa semua bisa kita lakukan kalau kita berpikir bisa.

Marilah kita lihat kembali pada diri sendiri. Bila masih ada tali yang mengikat, putuskan dan mari kita bergerak keluar dari hal-hal yang menghambat kita.

Sumber: artikel motivasi dari web-cerdas.cjb.net

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s